Advertising Syariah Kaffah Buying and selling


Oleh: Idris Parakkasi

Konsultan Ekonomi Syariah

A.   
Pendahuluan

Banyak yang mengatakan pasar syariah adalah pasar yang
emosional (emotional marketplace)
sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional (rational marketplace). Maksudnya orang tertarik untuk berbisnis pada
pasar syariah karena alasan-alasan keagamaan (dalam hal ini agama Islam) yang
lebih bersifat emosional, bukan karena ingin mendapatkan keuntungan finansial
yang bersifat rasional. Sebaliknya, pada pasar konvensional atau non-syariah,
orang ingin mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya, tanpa terlalu peduli
apakah bisnis yang digelutinya dan cara mendapatkan hasil  tersebut mungkin menyimpang atau malah
bertentangan dengan prinsip syariah.

Seorang pakar ekonomi syariah Didin Hafidhudin mengatakan
bahwa orang-orang yang ada dipasar syariah justru sebenarnya sangat rasional
dalam menentukan pilihan. Beliau juga mengatakan, orang yang berada dalam
kategori pasar emosional biasanya lebih kritis, lebih teliti dan sangat cermat
dalam membandingkan dengan financial institution atau asuransi konvensional yang selama ini
digunakannya sebelum menentukan pilihannya ke pasar syariah. Pernyataan ini ada
benarnya melihat pendapat seorang praktisi perbankan syariah tentang dikotomi
pasar emosional dan pasar rasional, Budi Wicakseno mengatakan, bahwa pemahaman
dikotomi antara nasabah rasional dan nasabah emosional adalah keliru. Cara
berpikir seperti itu, katanya, dilandasi oleh teori pemasaran konvensional yang
berpaham sekuler, segala hal yang berlandaskan cara berpikir keagamaan serta-merta
akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak rasional.

Memang praktisi bisnis dan pemasaran sebenarnya bergeser dan
mengalami transformasi dari degree intelektual (rasional) ke emosional dan
akhirnya ke pasar non secular. Pada akhirnya konsumen akan mempertimbangkan
kesesuaian produk dan jasa terhadap nilai-nilai non secular yang diyakininya.
Dilevel Intelektual (rasional), pemasar menyikapi pemasaran secara
fungsional-teknikal dengan menggunakan sejumlah equipment pemasaran, seperti segmentasi, focused on, positioning,
marketing-mix, branding
dan sebagainya. Kemudian di degree emosional,
kemampuan pemasar dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting.
Disini pelanggan dilihat sebagai  manusia
seutuhnya, lengkap dengan emosi dan perasaannya. Non secular advertising merupakan tingkatan tertinggi. Orang tidak
semata-mata menghitung untung atau rugi, tidak terpengaruh lagi dengan hal yang
bersifat duniawi. Panggilan jiwalah yang mendorongnya, karena didalamnya
terkandung nilai-nilai non secular.

Selain itu dalam syariah
advertising
, bisnis yang disertai keikhlasan semata-mata hanya untuk mencari
keridhaan Allah, maka seluruh bentuk transaksinya insya Allah menjadi ibadah
dihadapan Allah. Ini akan menjadi bibit dan modal dasar baginya untuk tumbuh
menjadi bisnis yang besar, yang memiliki non secular
logo
, yang memiliki kharisma, keunggulan, dan keunikan yang tak
tertandingi.

B.    
Permasalahan

Berdasarkan uraian diatas yang
terkait masalah advertising syariah maka ada bebarapa hal yang perlu dibahas
antara lain:

1.      Bagaimana non secular advertising
sebagai jiwa Bisnis?

2.      Bagaimana Karakteristik Advertising
Syariah ?

3.      Bagaiimana
Implementasi Advertising Syariah?

4.      Bagaimana  Perbedaan Konsep pemasaran Syariah Dengan
Pemasaran Konvensional?

C.   
Pembahasan

1.     
Non secular Advertising Sebagai Jiwa Bisnis

Stephen R. Covey penulis buku legendaris, The 7 Addiction of
Extremely Efficient Other people,1 di penghujung karirnya dia menerbitka buku
baru, The 7th dependancy: From Effectiveness to Greatness, menyimpulkan
bahwa faktor non secular merupakan kunci terakhir yang harus dimiliki seorang
pemimpin dalam suatu perusahaan. Kita perlukan kepemimpinan non secular dalam
mengelola suatu bisnis, terlepas dari mana sumber non secular tersebut.

Suatu bisnis, sekalipun bergerak dalam bisnis yang
berhubungan dengan agama, jika tidak mampu memberikan kebahagaiaan kepada semua
pihak, berarti belum melaksanakan non secular
advertising
. Sebaliknya jika dalam berbisnis kita sudah mampu memberikan
kebahagiaan, menjalankan kejujuran dan keadilan, sesungguhnya kita telah
menjalankan non secular advertising, apapun
bidang yang kita geluti selama tidak bertentangan dangan prinsip syariah. Dalam
bisnis trip haji misalnya, sekalipun mengurusi orang yang sedang menjalankan
ibadah haji, jika dalam pengelolaannya terdapat penyimpangan-penyimpangan dari
segi fasilitas dan akomodasi setelah di Tanah Suci, tidak sesuai dengan yang
dijanjikan dan dipromosikan sebelumnya, berarti sesungguhnya bisnis ini tidak
berjalan dengan konsep bisnis syariah, ia pun belum menjalankan non secular
advertising.

2.     
Bagaimana  Karakteristik Advertising Syariah  

Kata
“syariah” (al-syari’ah) telah ada
dalam bahasa arab sebelum turunnya Al-Quran. Kata yang semakna dengannya juga
ada dalam Taurat dan Injil. Kata syari’at

 1Steven R. Covey. The 7 Conduct of Extremely Efficient Other people. Bainarupa
Aksara, 1997. Jakarta

dalam
bahasa Ibrani disebutkan sebanyak 200 kali, yang selalu mengisyaratkan pada
makna “kehendak Tuhan yang diwahyukan sebagai wujud kekuasaan-Nya atas segala
perbuatan manusia.”2

Dalam Al-Quran kata syari’ah disebutkan hanya sekali dalam
Surah Al-Jatsiyah, “Kemudian Kami Jadikan kamuberda didalam suatu syariat
(peraturan) dari urusan (agama) itu, maka ikutilah syariat itu dan janganlah
kalu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui
” (QS
Al-Jatsiyah: 18).

Kemudian kata itu muncul dalam bentuk kata kerja dan
turunnya sebanyak tiga kali

Dia
telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan_Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa
…” (QS As-Syura: 13) “Untuk
tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan
” (QS
Al-Maidah:48).

Apakah
mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka
agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan
(dari Alllah), tentulah mereka telah dibinasakan. Dan sesunggguhnya orang-orang
yang zalim itu akan memperoleh azabyang amat pedih”
(QS As-Syur: 21).

Kata syariah berasal dari kata
syara’a  al-syai’a yang berarti
‘menerangkan’ atau ‘menjelaskan sesuatu’. Atau berasal dari kata syir’ah dan
syari’ah yang berarti ‘suatu tempat yang dijadikan sarana untuk mengambil air
secara langsung sehingga orang yang mengambilnya tidal memerlukan bantuan alat
lain.3.

2Encyclopedia Brittanica, X, (Micropeadia)). H. 49. Dikutip
dari Hermawan Kartajaya, Syariah advertising,
,Ushul Al-Syariah
(Nalar Kritis Syariah). Kairo, Mesir, 1978

3 Lihat Mu’jam Alfazh Al-Qur’an Al-Karim, kairo: Majma’Al-Lughan Al’Arabiyah, Jus 2, h.
13

Syaikh Al-Qardhawi4 mengatakan, cakupan dari
pengertian syariah menurut pandangan Islam sangatlah luas dan komprehensif (al-syumul). Didalamnya mengandung makna
mengatur seluruh aspek kehidupan, mulai dari aspek ibadah (hubungan manusia
dengan Tuhannya), aspek keluarga (seperti nikah, talak, nafkah, wasiat,
warisan), aspek bisnis (perdagangan, industri, perbankan, asuransi,
utang-piutang, pemasaran, hibah), aspek ekonomi (permodalan, zakat, baitul Maal,
fa’i, ghanimah), aspek hukum dan peradilan, aspek undang-undang hingga hubungan
antar Negara.

Pemasaran sendiri adalah bentuk muamalah yang dibenarkan
dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari
hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah.

Philip Kotler 
mendefinisikan pemasaran sebagai  “Sebuah proses sosial dan manajerial dimana
individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan
dan inginkan melalui penciptaan penawaran, dan pertukaran produk –produk atau
price dengan pihak lainnya.  Definisi ini
berdasarkan konsep-konsep inti,

seperti: kebutuhan, keinginan dan permintaan produk-produk
(barang, layanan, dan ide), price, biaya dan kepuasan, pertukaran dan
transaksi, hubungan dan jaringan, pasar dan pemasar serta prospek.  Ini artinya bahwa dalam syariah advertising, seluruh  proses,
baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (price), tidak boleh ada hal-hal yang
bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal
tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah islami tidak
terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam

4 DR. Yusuf Qardawi, Madkhal
Li Dirasah Al-Syaria’ah Al-Islamiyyah
, Maktabah, kairo, 1990 M.

pemasaran
dapat dibolehkan. Dalam kaidah fiqh dikatakan, al muslimuuna ala syurutihim illa syarthan harrama halalan aw ahalla
haraman
(kaum muslimin terikat dengan kesepakatan-kesepakatan bisnis yang
mereka buat, kecuali kesepakatan yang mengharamkan yang halal

Ada 4 karakteristik syariah
advertising
yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar sebagai berikut:5

1.      Teistis (rabbaniyyah) : jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hukum-hukum
syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah yang paling adil,
paling sempurna, paling selaras dengan segala bentuk kebaikan, paling dapat
mencegah segala bentuk kerusakan, paling mampu mewujudkan kebenaran,
memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemaslahatan.

2.      Etis (akhlaqiyyah) : Keistimewaan lain dari syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah) juga karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak
(ethical, etika) dalam seluruh aspek kegiatannya, karena nilai-nilai ethical dan
etika adalah nilai yang bersifat common, yang diajarkan oleh agama.

3.   Realistis (al-waqiyyah) : syariah
marketer
adalah konsep pemasaran yang fleksibel, sebagaimana keluasan dan
keluwesan syariah islamiyah yang melandasinya. Syariah marketer adalah para
pemasar skilled dengan penampilan yang bersih, rapi dan bersahaja, apapun
style atau gaya berpakaian yang dikenakannya, bekerja dengan mengedepankan
nilai-nilai religius, kesalehan, aspek ethical dan kejujuran dalan segala
aktivitas pemasarannya.

5Muhammad Sula dan Hermawan
Kertajaya. Syariah Advertising,
Jakarta. Mizan. 2005

4.   Humanistis (insaniyyah) : keistimewaan syariah
marketer
yang lain adalah sifatnya yang humanistis common, yaitu bahwa
syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat, sifat
kemanusiaannya terjaga dan terpelihara, serta sifat-sifat kehewanannya dapat
terkekang dengan panduan syariah. Syariat Islam diciptakan untuk manusia sesuai
dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, jenis kelamin, warna kulit,
kebangsaan dan standing. Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat common
sehingga menjadi syariah humanistis common.

Prinsip Pemasaran Perspektif Syariah

1.   Sustainable Advertising Undertaking
(SME)

Suatu style pemasaran dimana perusahaan mampu bertahan dan
sukses tidak hanya pada saat ini tetapi juga dimasa mendatang. Bahwa perusahaan
mengalami fase sebagaimana fase kehidupan manusia, yang harus mempertahankan
diri pada saat terjadi krisis dan perubahan situasi dan kondisi. Jika
perusahaan ingin tetap hidup , pemimpin perfusahaan harus melakukan tindakan
inventive destruction sebelum krisis menghadang,6 sehingga perusahaan
mulai kembali siklus hidupnya.

Perusahaan yang baik adalah perusahaan yang dapat
mempertahankan keadaannya secara kontinyu agar dapat bertahan hidup dalam pasar
yang terus berubah.

2.  
Lanskap Bisnis Syariah Advertising

a.      Data Era Permits Us to be
Trasparent (Exchange)

Perubahan adalah sesuatu hal yang
pasti akan terjadi. Kekuatan perubahan terdiri dari lima unsur  yaitu perubahan tekhnologi, perubahan ekonomi,
perubahan

6David
Ok. Hurst, Disaster &Renewal: Assembly
the problem of organizational Exchange
, Harvard Industry Scool Press, 1955

poltik, perubahan soial- cultural dan perubahan pasar.
Perubahan yang paling utama adalah perubahan tehnologi, karena tehnologi akan
memberi efek yang lebih luas terhadap segala aspek yang nantinya akan juga mengalami
perubahan. Perkembangan tehnologi memberi pengaruh yang besar terhadap
perusahaan syariah. Selain sebagai penunjang operasional dan standar layanan,
tehnologi juga menunjukkan kesungguhan dalam melaksanakan prinsip syariah
advertising. Kemudahan bagi konsumen untuk mendapatkan  informasi dan melakukan komunikasi.

b.      Be Respectul to Your Competition (Competitor)

Globalisasi dan perubahan tehnologi
menciptakan persaingan usaha yang ketat. Pasar semakin kompleks, terbuka dan
trendy. Dalam menghadapi persaingan dibutuhkan motivasi dan keterbukaan diri
dengan berupaya menciptakan win-win answer antara perusahaan dan pesaingnya.
Sebagai perusahaan syariah komitmen kejujuran, sikap adil, maslahah senantiasa
menjadi standar dalam bersaing secara sehat meskipun pelaku pasar sering
terjadi perilaku yang kurang bermoral.

c.         
The Emergence of Shoppers World  Paradox (Buyer)

Pengaruh inovasi teknologi mendasari
terjadinya perubahan sosial budaya. Lahirnya revolusi dalam bidang teknologi
informasi dan telakomunikasi mengubah cara pandang dan perilaku masyarakat,
contoh bahwa kehadiran web telah membawa perubahan pada segala sektor
kehidupan manusia. Setiap produk dan provider sebenarnya ditujukan untuk
kepentingan  masyarakat yang membeli
produk atau jasa seharusnya harus diberikan perhatian secara maksimal. Bagi
perusahaan syariah globalisasi membawa banyak manfaat dan peluang menjadi
sarana untuk lebih baik. Pengaruh informasi dan tehnologi ibarat pisau bermata
dua tergantung cara dan sikap kita dalam mengambil manfaat didalamnya.

3.  
Syariah Advertising Technique

a.    View Marketplace Univeraslly (Segmentation)

Segmentasi adalah seni
mengidentifikasikan serta memanfaatkan peluang-peluang yang muncul dipasar.
Dalam melihat pasar,  perusahaan harus
kreatif dan inovatif menyikapi perkembangan yang terjadi, karena segmentasi
langkah awal yang menentukan keseluruhan aktivitas perusahaan

b.   Goal Buyer’s Middle and Soul (Focused on)

Focused on adalah strategi
mengalokasikan sumber daya perusahaan secara efektif, karena sumber daya yang
dumiliki terbatas. Dengan menentukan goal yang akan dibidik usaha kita akan
lebih terarah. Olehnya itu perusahaan harus membidik pasar yang akan dimasuki
sesuai daya saing yang dimiliki (aggressive
benefit
).

Menurut warren dalam bukunya, World advertising managemen7. kriteria target audience adalah marketplace zise
dengan attainable festival, dan compatibility
dengan feasibility. Tentunya
untuk bersaing perusahaan harus memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif
sesuai assets yang dimiliki. Ada tiga hal yang dibutuhkan dalam segmentasi
pasar. Pertama bahwa segmen pasar yang dipilih cukup besar dan menguntungkan (marketplace zise).

7Warren.J Keegan, Mark C. Inexperienced. World Advertising Control, Prentice
corridor, 1988.

Kedua strategi focused on harus didasarkan pada keunggulan daya saing
perusahaan (aggressive benefit).

Ketiga situasi persaingan (aggressive scenario). Olehnya itu perusahaan
syariah harus mampu membidik hati dan jiwa konsumennya. Baik yang jangka lama (long-term) maupun yang bersiifat  singkat (momentary)

c.    Construct A Trust Device (Positioning)

Yaitu strategi untuk merebut posisi
dibenak konsumen, sehingga strategi ini terkait begaimana membangun
kepercayaan, keyakinan, dan kompetensi bagi pelanggan. Positioning ini menetapkan
bagaimana identitas produk atau perusahaan tertanam dibenak konsumen yang
mempunyai kesesuaian dengan kompetensi yang dimiliki perusahaan untuk
mendapatkan kepercayaan, kredibilitas dan pengakuan dari konsumen. Positioning harus sustainable terhadap perubahan-perubahan yang terjadi dipasar yang
harus terus dikomunikasikan secara konsisten dan tidak berubah-ubah. Perusahaan
syariah harus membangun positioning yang kuat dan positip sangatlah penting,
citra syariah harus bisa dipertahankan dengan menawarkan value-value yang sesuai prinsip syariah.

d.      Fluctuate Youself With A Excellent Pacpage
of Content material and Context  (Differentiation)

            Diferensisi
adalah tindakan merancang seperangkat perbedaan yang bermakna dalam tawaran
perusahaan. Differensiasi ini bisa berupa content material (what of be offering) dan context (how
to provide
) dan infrastructure (capacity
to provide
). Content material adalah dimensi
differensiasi yang merujuk pada price yang ditawarkan kepada pelanggan anda. Context merupakan dimensi yang merujuk
pada cara anda menawarkan produk. Sedangkan infrastructure
merujuk pada teknologi, SDM (folks) dan fasilitas (facility) yang digunakan untuk menciptakan diferensiasi content material dan context.

e.         
Be Fair With Your 4 Playstation 
(Advertising Combine)

Advertising blend dikenal dengan 4P
denganelemen-elemennya adalah Product (produk),
worth (harga), Position (tempat./distribusi), dan promotion (promosi). Product
dan worth adalah komponen dari
tawaran (provides),  sedangkan position  dan promotion adalah komponen dari akses (get admission to). Advertising blend dimaksudkan begaimana mengintegrasikan tawaran dari
perusahaan (corporate of provides) dengan
akses yang tersedia (corporate get admission to).
Proses pengintegrasian ini menjadi kunci suksesnya usaha pemasaran dari
perusahaan. Type ini disebut juga dengan introduction
tactic
karena advertising blend
haruslah berdasarkan penciptaan diferensiasi dari sisi content material, context, dan infrastructure. Bagi perusahaan syariah,
untuk komponen tawaran (be offering),
produk dan harga haruslah didasari dengan nilai kejujuran dan keadilan sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah. Kualitas produk yang diberikan harus sesuai
dengan yang ditawarkan. Jadi dilarang perusahaan menyembunyikan kecacatan dari
produk yang ditawarkan. Sedangkan dalam menentukan harga, perusahaan haruslah
mengutamakan nilai keadilan. Jika kualitas produknya bagus harganya bisa
tinggi, sebaliknya jika  produknya tidak
berkualitas harus disesuaikan dengan kualitas tersebut.

Komponen akses berupa promosi bagi
perusahaan syariah haruslah menggambarkan secara riil apa yang ditawarkan dari
produk-produk atau servis perusahaan tersebut. Promosi tidak boleh terlalu
menampilkan imajinasi yang terlalu tinggi bagi konsumennya karena ini termasuk
penipuan dan kebohongan. Dalam menentukan puts atau saluran distribusi,
perusahaan harus mengutamakan tempat-tempat yang sesuai dengan target audience
sehingga dapat efektif dan efisien. Proses integrasi terhadap be offering dan get admission to
harus didasari oleh prinsip-prinsip keadilan dan kejujuran.

F.  Follow A Dating- based totally Promoting (Promoting)

Promoting adalah penyerahan barang atau jasa
dari penjual kepada pembeli dengan harga yang disepakati atas dasar sukarela.
Pengertian secara luas bahwa  promoting adalah memaksimalkan kegiatan
penjualan sehingga dapat menciptakan situasi yang win-win answer bagi si penjual
dan si pembeli. Bagi perusahaan syariah 
harus menjadikan konsumen sebagai teman dengan sikap tolong menolong dan
kejujuran sebagai landasan utama serta membangun keharmonisan dengan konsumen.

4.     
Syariah Advertising Worth

A.     Use a Spritual Logo (Logo)

Logo atau merek adalah suatu identitas terhadap produk atau jasa
perusahaan. Logo mencerminkan nilai
(price) yang diberikan kepada
konsumen. Jika perusahaan mempunyai Overall Get yang lebih tinggi dibandingkan
Overall Give, logo yang dimiliki mempunyai  nilai ekuitas yang kuat. Selain itu positioning dan differentiation yang telah terbentuk, logo akan menambah price bagi produk dan jasa yang ditawarkan. Logo yang baik adalah logo yang mempunyai karakter yang kuat
dan bagi perusahaan atau produk yang menerapkan syariah advertising atau
prinsip-prinsip syariah. Yaitu logo yang tidak mengandung unsur judi,
penipuan, riba, tidak mengandung unsur kezaliman dan tidak membahayakan pihak
sendiri ataupun pihak orang lain.

B.     Carrier Must Have The Talent to
Change into (provider)

Untuk menjadi perusahaan yang besar dan suistainable,
perusahaan berbasisi syariah advertising harus memperhatikan provider yang
ditawarkan untuk menjaga kepuasan pelanggannya. Dalam melakukan pelayanan
seseorang memperhatikan sikap, pembicaraan yang baik, bahasa tubuh, bersifat
simpatik, lembut, sopan, hormat dan penuh kasih sayang.

C. Follow a Realible
Industry Procedure
(Proses)

Proses mencerminkan high quality,
price dan supply
(QCD). Kualitas sautu produk ataupun provider tergambar
dari proses yang baik, dari proses produksi sampai supply kepada konsumen
secara tepat dan dengan biaya yang efektif 
dan  efisien. Proses dalam konteks  kualitas adalah bagaimana menciptakan proses yang
mempunyai nilai lebih untuk konsumen. Proses dalam konteks price adalah bagaimana menciptakan proses yang efisien yang tidak
membutuhkan biaya yang banyak, tetapi kualitas terjamin. Sedangkan proses dalam
konteks supply adalah bagaimana
proses pengiriman atau penyampaian produk atau servis yang ditawarkan
perusahaan kepada konsumen.

5.     
Syariah Advertising Scorecard

A.  Create A Balanced Worth to Your
Stakeholders (scorecard)

Prinsip dalam syariah
advertising
adalah menciptakan price bagi stakeholders-nya. Tiga stakeholders
dari suatu perusahaan adalah folks,
consumers
dan shareholders,
karena ketiganya sangat berperan dalam menjalankan usaha. Hubungan horizontal
dan hubungan vertikal harus dijaga dengan baik demi menjaga hubungan yang
harmonis dengan stakeholders dan yang utama adalah hubungan dengan sang
pencipta.

B.    
Create A Noble Purpose (inspiration)

Perusahaan hendaknya memiliki impian (dream) untuk mencapai kesuksesan, karena impian ini akan mengantar
seseorang dalam mewujudkan tujuan perusahaannya. Olehnya itu perusahaan  berbasisi syariah advertising, penentuan visi
dan misi tidak bisa terlepas dari makna syariah itu sendiri serta tujuan akhir
yang ingin dicapai. Tujuan akhir ini harus bersifat mulia, lebih dari sekedar
monetary semata.

C.    
Expand An Moral Company Tradition
(Tradition)

Perusahaan yang bertbasis syariah hendaknya mengembangkan
budaya perusahaan sesuai syariah. Seluruh pola, perilaku, sikap dan
aturan-aturan senantiasa tidak boleh terlepas dari foundation syariah. Budaya dapat
kita implementasikan seperti budaya salam, murah hati, ramah, melayani,
disiplin, cara berbusana, teratur dan tertib, 
dan lingkungan kerja yang tenang, bersih dan indah.

D.            
Dimension Should Be Transparent And
Tranparent (Establishment)

Yaitu bagaimana membangun organisasi perusahaan sesuai
dengan prinsip-prinsip syariah. Segala kebutuhan stakeholders secara mendasar dipenuhi dengan baik pada sistem yang
benar. Ketelitian, trasparansi, ketepatan dan kecepatan dan pelayanan yang
skilled semuanya merupakan hal yang menjadi standar organisasi.

3.  Bagaiimana
Implementasi Advertising Syariah

3.1.  Berbisnis Cara
Nabi Muhammad Noticed

Muhammad adalah Rasulullah, Nabi terakhir yang diturunkan
untuk menyempurnakan ajaran-ajaran Tuhan yang menjadi suri tauladan umat-Nya.
Akan tetapi disisi lain Nabi Muhammad Noticed juga manusia biasa; beliau makan,
minum, berkeluarga dan bertetangga, berbisnis dan berpolitik, serta sekaligus
memimpin umat.

Nabi Muhammad sebagi seorang pedagang memberikan contoh yang
baik dalam setiap transaksi bisnisnya. Beliau melakukan transaksi secara jujur,
adil dan tidak pernah membuat pelanggannya mengeluh, apalagi kecewa. Beliau
selalu menepati janji dan mengantarkan barang dagangannya dengan standar
kualitas sesuai dengan permintaan pelanggan. Reputasinya sebagai pedagang yang
benar dan jujur telah tertanam dengan baik sejak muda. Beliau selalu
memperlihatkan rasa tanggung jawab terhadap setiap transaksi yang dilakukan.

3.2 Muhammad sebagai Syariah Marketer

Muhammad bukan saja sebagai seorang pedagang, beliau adalah
seorang nabi dengan segala kebesaran dan kemuliannya. Nabi Muhammad sangat
menganjurkan umatnya berbisnis (berdagang), karena berbisnis dapat menimbulkan
kemandirian dan kesejahteraan bagi keluarga tanpa tergantung atau menjadi beban
orang lain. Beliau pernah betkata, “Berdaganglah kamu, sebab dari sepuluh
bagian penghidupan, sembilan diantaranya dihasilkan dari berdagang.” Al-Quran
juga memberi motivasi untuk berbisnis pada ayat berikut:

“Tidak
ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.”
(QS Al-Baqarah : 198)

“Allah
menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (QS Al-Baqarah : 275)

3.3 Muhammad Sebagai Pedagang Profesional

Dalam transaksi bisnisnya sebagai pedagang skilled
tidak ada tawar menawar dan pertengkaran antara Muhammad dan para pelanggannya,
sebagaimana sering disaksikan pada waktu itu di pasar-pasar sepanjang jazirah
Arab. Segala permasalahan antara Muhammad dengan pelanggannya selalu
diselesaikan dengan adil dan jujur, tetapi bahkan tetap meletakkan prinsip-prinsip
dasar untuk hubungan dagang yang adil dan jujur tersebut.

Disini terlihat bahwa beliau tidak hanya bekerja secara
skilled, tetapi sikap profesionalisme beliau praktikkan pula ketika telah
dilantik menjadi Nabi.Beliau memimpin sahabat-sahabatnya dengan prinsip-prinsip
profesionalisme; memberinya tugas sesuai dengan kemampuan dan kapasitas yang
dimiliki. Semuanya berjalan dengan skilled dan tentunya dengan tuntunan
Allah.

3.4 Muhammad Sebagai Pebisnis Yang Jujur

Muhammad benar-benar mengikuti prinsip-prinsip perdagangan
yang adil dalam transaksi-transaksinya. Beliau telah mengikis habis
transaksi-transaksi dagang dari segala macam praktik yang mengandung unsur
penipuan, riba, judi, gharar, keraguan, eksploitasi, pengambilan untung yang
berlebihan dan pasar gelap. Beliau juga melakukan standardisasi timbangan dan
ukuran, serta melarang orang-orang menggunakan timbangan dan ukuran lain yang
tidak dapat dijadikan pegangan standar.

Nabi Muhammad juga mengatakan,
“pedagang, pada hari kebangkitan akan dibangkitkan sebagai pelaku kejahatan,
kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, jujur, dan selalu berkata benar” (HR
Al Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al Darimi).

3.5 Muhammad Menghindari Bisnis Haram

Nabi Muhammad melarang beberapa jenis perdagangan , baik karena
sistemnya maupun karena ada unsur-unsur yang diharamkan didalamnya.
Memperjual-belikan benda-benda yang dilarang dalam Al-Quran adalah haram. Al-Quran,
misalnya, melarang mengkonsumsi daging babi, darah, bangkai dan alkohol,
sebagaimana yang tercantum dalam QS Al-Baqarah:175).

3.6 Sembilan Etika (Akhlak) Pemasar

Ada sembilan etika pemasar, yang akan menjadi
prinsip-prinsip bagi syariah marketer dalam menjalankan fungi-fungsi pemasaran,
yaitu:

  1. Memiliki kepribadian non secular
    (takwa)
  2. Berprilaku bail dan simpatik
    (Shidq)
  3. Berprilaku adil dalam bisnis
    (Al-Adl)
  4. Bersikap melayani dan rendah
    hati (Khidmah)
  5. Menepati janji dan tidak curang
  6. Jujur dan terpercaya (Al-
    Amanah)
  7. Tidak suka berburuk sangka
    (Su’uzh-zhann)
  8. Tidak suka menjelek-jelekkan
    (Ghibah)
  9. Tidak melakukan sogok (Riswah)

Selain itu ada lima hal sifat yang
harus dimiliki oleh seorang marketer yaitu;

1.
Shiddiq (benar dan jujur) : seorang
pemasar sifat shiddiq haruslah menjiwai seluruh prilakunya dalam melakukan
pemasaran, dalam berhubungan dengan pelanggan, dalam bertransaksi dengan
nasabah, dan dalam membuat perjanjian dengan mitra bisnisnya.

2.
Amanah (terpercaya, kredibel) :
artinya, dapat dipercaya, bertanggung jawab, dan kredibel, juga bermakna
keinginan untuk untuk memenuhi sesuatu sesuai dengan ketentuan. Diantara nilai
yang terkait dengan kejujuran dan melengkapinya adalah amanah.

3.
Fathanah (cerdas) : dapat diartikan
sebagai intelektual, kecerdikan atau kebijaksanaan. Pemimpin yang fathanah
adalah pemimpin yang memahami, mengerti dan menghayati secara mendalam segala
hal yang menjadi tugas dan kewajibannya.

4.
Tabligh (komunikatif) : artinya
komunikatif dan argumentatif. Orang yang memiliki sifat ini akan menyampaikannya
dengan benar dan dengan tutur kata yang tepat. Berbicara dengan orang lain
dengan sesuatu yang mudah dipahaminya, berdiskusi dan melakukan presentasi
bisnis dengan bahasa yang mudah dipahami sehingga orang tersebut mudah memahami
pesan bisnis yang ingin kita sampaikan.

5.
Istiqamah artinya konsisten, yaitu
seorang pemasar syariah dalam praktik pemasarannya selalu istiqamah dalam
penerapan aturan syariah.

Kelima sifat  ini
merupakan sifat-sifat Nabi Muhammad Noticed yang sudah sangat dikenal tapi masih
jarang diimplementasikan khususnya dalam dunia bisnis.

4.  Perbandingan Pemasaran Syariah dan Pemasaran
Konvensional

Perbandingan pemasaran syariah dengan pemasaran konvensional
dapat dijelaskan  beberapa hal antara
lain:8

1.                 
Konsep dan filosofi Dasar

Pemasaran konvensional merupakan pemasaran
yang bebas nilai dan tidak mendasarkan pada nilai-nilai ilahiyah dalam segala
aktivitas pemasarannya.

8M. Nur Rianto Al Arif. Dasar-dasar Pemasaran Financial institution
Syariah,  Alpabeta Bandung, 2010

 Pemasar hanya lebih fokus pada pencapaian
goal penjualan yang telah ditetapkan perusahaan. Dalam pemasaran syariah
seorang pemasar harus merasakan bahwasanya setiap aktivitas pemasarannya ia
selalu diawasi oleh Allah SWT, sehingga sangat berhati-hati dalam menjaga
aktivitas pemasarannaya.

2.      Etika Pemasar

Pemasar syariah sangat memegang teguh etika dalam melakukan
pemasaran kepada calon konsumennya. Sangat menghindari  kebohongan, berlebihan dalam promosi, menjaga
kejujuran dan janji. Dibandingkan pemasaran konvensional cenderung bebas nilai
sehingga seorang pemasar bebas menggunakan cara-cara meskipun bertentangan
dengan syariah.

3.      Pendekatan Dengan Konsumen

Konsumen dalam pemasaran syariah diletakkan sebagai mitra
yang sejajar. Perusahaan tidak menjadikan konsumen sebagai “sapi perah” untuk
membeli produknya. Olehnya tidak boleh melakukan aktivitas pemasaran yang
merugikan konsumen. Selalu berupaya 
menciptakan nilai produk yang positif dan umpan balik dari konsumennya.
Sebaliknya pada pemasaran konvensional cenderung konsumen diletakkan sebagai
objek untuk mencapai goal penjualan 
semata. Konsumen terkadang dirugikan dengan dengan janji yang berbeda
dengan realitas.

4.      Cara Pandang Terhadap Pesaing

Dalam pemasaran syriah 
setiap perusahaan dapat bersaing secara sehat dan masing-Masing punya
peluang untuk berkembang dengan baik tanpa menjatuhkan pesaingnya. Pesaing
merupakan mitra  yang turut dalam
menyukseskan implementasi ekonomi syariah. Hal berbeda pada pemasaran
konvensional cenderung menganggap pesaing sebagai pihak lawan yang harus
dimatikan karena dapat menghambat laju perusahaan.

5.      Budaya Kerja

Budaya kerja yang harus diaplikasikan adalah bagaimana budya
kerja yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW yaitu memiliki sifat kejujuran
(shiddiq), cerdas atau kompeten (fathonah), 
bertanggungjawab (amanah) dan mampu menyebarluaskan dan
mengkomunikasikan aktivitas kerja yang baik (tabligh)

                                       DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an
Al-Karim dan Terjemahan, Lembaga Percetakan Al-Qur’an Raja Fahd,

            1418 H

Budi
Wisakseno, Rasionalitas Nasabah Perbankan
Syariah
, republika, Jumat, 23

            Pebruari
2005

David
Ok. Hurst, Disaster &Renewal, 1955 Assembly
the problem of organizational

Exchange, Harvard Industry Scool Press.

Didin
Hafidhuddin & Hendri Tanjung, Manajemen
Syariah Dalam Praktek
.

Gema Insani, 2003

Encyclopedia
Brittanica, X, (Micropeadia)). H. 49. Dikutip dari Hermawan Kartajaya,

Syariah advertising,
,Ushul Al-Syariah
(Nalar Kritis Syariah). Kairo, Mesir, 1978

Hermawan
Kartajaya, Aa Fitness center: A Spritual Marketer.
Mark Plus & Co
., 2005

Hermawan
Kartajaya, Hermawan Kartajaya On
Advertising
, Gramedia, Jakarta 2002

Muhammad
Sula dan Hermawan Kertajaya. Syariah
Advertising
, Jakarta. Mizan. 2005

Muhammad
Husein Haekal, Hayat Muhammad  (Sejarah Hidup Muhammad,

Terj.),Timtamas, 1984

Muhammad
Abdul gani, The Spritualy In Industry,
Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2005

M.
Nur Rianto Al Arif. Dasar-dasar Pemasaran Financial institution Syariah,  Alpabeta Bandung,

2010

Philip
Kotler dan Gary Armstrong, Rules Of Advertising,
9th Version,

Prentice Corridor, Inc, 1980

_______________,
Advertising Control, 9th
Version, Prentice , 1977

Stephen R.
Covey, Seven Conduct Of Extremely Efficient
Other people
, Hearth, 1990

Warren J.
Keegan. World Advertising Control,
Edisi ke-5 Prentice Corridor, 1996

 Yusuf Qardawi, Madkhal Li Dirasah Al-Syaria’ah Al-Islamiyyah, Maktabah, Kairo,
1990 M