Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Pembangunan Ekonomi Kaffah Buying and selling

Faktor-Faktor
Yang Mempengaruhi  Pertumbuhan Pembangunan
Ekonomi

Oleh: Idris Parakkasi

A.      
Pendahuluan

Berdasarkan dari  segi taraf hidup yang dicapai masyarakat,
negara didunia sering dibedakan menjadi Negara berkembang dan Negara maju.
Corak dan pola kegiatan ekonomi di kedua golongan Negara itu sangat berbeda dan
memerlukan pendekatan yang berbeda dalam menganalisa persoalan yang dihadapi
dan kebijakan yang diperlukan untuk mengatasinya. Sebagian besar  negara berkembang termasuk Indonesia walaupun
telah berusaha mengembangkan ekonominya selama hampir enam dekade, isu-isu
mengenai pembangunannya tidak banyak mengalami perubahan. Ada dua hal yang
sering menjadi alat ukur terhadap keberhasilan pembangunan suatu bangsa yaitu
pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi, dimana keduanya memiliki subtansi
yang berbeda.

Pertumbuhan
ekonomi hanyalah merupakan salah satu aspek saja dari pembangunan ekonomi yang
lebih menekankan pada peningkatan output agregat khususnya output agregat according to
kapita. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan sebagai proses perubahan kondisi
perekonomian suatu negara secara berkesinambungan menuju keadaan yang lebih
baik selama periode tertentu. Pertumbuhan ekonomi dapat diartikan juga sebagai
proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam
bentuk kenaikan pendapatan nasional.

Pertumbuhan ekonomi diartikan sebagai proses
kenaikan output according to kapita dalam jangka panjang. Ada tiga aspek yang perlu
diperhatikan dalam definisi tersebut, yaitu :

1.  Proses,

2. Output according to kapita, dan

3.  Jangka waktu yang panjang
panjang.

Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses, bukan suatu
gambaran ekonomi pada suatu saat.
Simon Kuznet
mendefenisikan pertumbuhan ekonomi suatu negara sebagai “Kemampuan negara itu
untuk menyediakan barang-barang ekonomi yang terus meningkat bagi penduduknya,  pertumbuhan kemampuan ini berdasarkan pada
kemajuan teknologi dan kelembagaan serta penyesuaian ideologi yang
dibutuhkannya”. Perekonomian dikatakan mengalami pertumbuhan apabila
jumlah balas jasa riil terhadap penggunaan faktor-faktor produksi pada tahun
tertentu lebih besar daripada tahun sebelumnya.

Indikator
yang digunakan untuk menghitung tingkat Pertumbuhan Ekonomi

  1. Tingkat Pertumbuhan PDB (Produk
    Domestik Bruto)
  2. Tingkat Pertumbuhan PNB (Produk
    Nasional Bruto)

Dalam
praktek angka, PNB kurang lazim dipakai, yang lebih populer dipakai adalah PDB,
karena angka PDB hanya melihat batas wilayah, terbatas pada negara yang
bersangkutan.

Pembangunan ekonomi diartikan sebagai serangkaian usaha
dalam suatu perekonomian untuk mengembangkan kegiatan ekonominya sehingga
infrastruktur lebih banyak tersedia, perusahaan semakin banyak dan semakin
berkembang, taraf pendidikan semakin tinggi dan tehnologi semakin meningkat.
Sebagai implikasi dari perkembangan ini diharapkan kesempatan kerja akan
bertambah, tingkat pendapatan meningkat, dan kemakmuran masyarakat menjadi
semakin tinggi.

Ilmu
Ekonomi Pembangunan sekarang ini menghadapi masa krisis dan re-evaluasi. Ia
menghadapi serangan dari berbagai penjuru. Banyak ekonom dan perencana
pembangunan yang skeptis tentang pendekatan utuh ilmu ekonomi pembangunan
kontemporer. Menurut Kursyid Ahmad,  sebagian mereka berpendapat bahwa teori yang
didapat dari pengalaman pembangunan  barat
kemudian diterapkan di negara-negara berkembang,  jelas tidak sesuai dan merusak masa depan
pembangunan itu sendiri. Dari paparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa
ilmu ekonomi pembangunan barat sama sekali tidak relevan dan tidak memenuhi
syarat untuk diterapkan di negara-negara Islam. Karena itu prinsip-prinsip
teori ini harus ditinjau kembali. Pendekatann yang jauh lebih kritis, harus
dilakukan untuk mengobati penyakit-penyakit yang sudah ditularkan kepada
negara-negara Islam.

Pada
akhirnya,  kita memerlukan suatu konsep
pembangunan ekonomi  yang tidak hanya mampu merealisasikan 
sasaran-sasaran yang ingin dicapai dalam suatu pembangunan ekonomi secara
tepat, teruji dan bisa diterapkan oleh semua negara-negara di belahan bumi ini,
tetapi juga yang terpenting adalah kemampuan konsep tersebut meminimalisasir
atau bahkan menghilangkan segala adverse  impact pembangunan yang dilakukan.  Konsep tersebut juga harus mampu memperhatikan
sisi kemanusiaan tanpa mulupakan aspek ethical.

Kesadaran
akan pentingnya nilai ethical dalam ekonomi pembangunan telah banyak
dikumandangkan oleh para ilmuwan ekonomi. Fritjop Capra dalam bukunya, ”The
Turningt Level, Science, Society, and The Emerging Tradition, menyatakan, ilmu
ekonomi merupakan ilmu yang paling bergantung pada nilai dan paling normatif di
antara ilmu-imu lainnya. Style dan teorinya  akan selalu didasarkan atas
nilai tertentu dan pada pandangan tentang hakekat manusia tertentu, pada
seperangkat asumsi yang oleh E.F Schummacher disebut ”meta ekonomi” karena
hampir tidak pernah dimasukkan secara eksplisit di dalam ekonomi kontemporer .
Demikian pula Ervin Laszlo dalam bukunya third Millenium, The Problem and the
Imaginative and prescient mengungkapkan kekeliruan sejumlah premis ilmu ekonomi,  terutama rasionalitias ekonomi yang telah
mengabaikan sama sekali nilai-nilai dan moralitas . Menurut mereka kelemahan
dan kekeliruan itulah yang antara lain menyebabkan ilmu ekonomi tidak berhasil
menciptakan keadilan ekonomi dan kesejahteraan bagi umat manusia. yang terjadi
justru sebaliknya, yaitu ketimpangan yang semakin tajam antara negara-negara
berkembang  (yang miskin) dengan
negara-negara dan masyarakat kaya. Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa untuk
memperbaiki keadaan  ini tidak ada jalan
lain kecuali dengan merobah paradigma dan visi, yaitu melakukan satu titik
balik peradaban.

Kebutuhan akan suatu konsep  baru pembangunan ekonomi
dunia saat ini terasa lebih mendesak  dilakukan,
 terutama dalam technology globalisasi.  Mark Skousen dalam bukunya Financial on Trial :
Lies, Myths and Fact banyak mengkritik mainstream ekonomi yang selama
ini  dianut oleh negara-negara dunia.

B.   Permasalahan

1.   Apa perbedaan antara pembangunan
ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi ?

2.   Faktor-Faktor apa yang mempengaruhi
pertumbuhan ekonomi ?

3.   Bagaimana pertumbuhan  dan pembangunan dalam perspektif syariah ?

C.   
Pembahasan

1.  
 Apa Perbedaan
Pembangunan Ekonomi dengan Pertumbuhan Ekonomi

Dalam pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi adapun
perbedaanya dapat dijelaskan sebagai berikut:

a.
Pembangunan ekonomi lebih bersifat kualitatif, bukan hanya pertambahan
produksi, tetapi juga terdapat perubahan-perubahan dalam struktur perekonomian.

b.
Pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat kuantitatif,  yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan
dan tingkat output produksi yang dihasilkan.

Persamaan Pembangunan Ekonomi dengan
Pertumbuhan Ekonomi. Kedua-duanya merupakan kecenderungan di bidang ekonomi.
Pokok permasalahan akhir adalah besarnya pendapatan according to kapita. Kedua-duanya
menjadi tanggungjawab pemerintah dan memerlukan dukungan rakyat.  Kedua-duanya berdampak kepada kesejahteraan
rakyat.

Pembangunan ekonomi adalah suatu proses kenaikan
pendapatan general dan pendapatan perkapita dengan memperhitungkan adanya
pertambahan
penduduk dan disertai dengan perubahan
basic dalam struktur ekonomi suatu negara dan pemerataan pendapatan bagi
penduduk suatu negara. Pembangunan ekonomi tak dapat lepas dari pertumbuhan ekonomi (financial
enlargement
).  Pembangunan ekonomi
mendorong pertumbuhan ekonomi, dan sebaliknya, pertumbuhan ekonomi memperlancar
proses pembangunan ekonomi. Yang dimaksud dengan pertumbuhan ekonomi adalah
proses kenaikan kapasitas produksi suatu perekonomian yang diwujudkan dalam
bentuk kenaikan
pendapatan nasional.
Suatu negara dikatakan mengalami pertumbuhan ekonomi apabila terjadi
peningkatan
GNP riil di negara tersebut. Adanya
pertumbuhan ekonomi merupakan indikasi keberhasilan pembangunan ekonomi.
Perbedaan
antara keduanya adalah pertumbuhan ekonomi keberhasilannya lebih bersifat
kuantitatif, yaitu adanya kenaikan dalam standar pendapatan dan tingkat output
produksi yang dihasilkan, sedangkan pembangunan ekonomi lebih bersifat
kualitatif, bukan hanya pertambahan produksi, tetapi juga terdapat
perubahan-perubahan dalam struktur produksi dan alokasi enter pada berbagai
sektor perekonomian seperti dalam
lembaga, pengetahuan, sosial dan teknik. Sumber daya alam yang dimiliki
mempengaruhi pembangunan ekonomi.

2.     
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pertumbuhan dan pembangunan Ekonomi?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan
pembangunan ekonomi,  Namun pada
hakikatnya faktor-faktor tersebut dapat dikelompokan menjadi dua, yaitu faktor
ekonomi dan faktor non ekonomi. Faktor ekonomi yang mempengaruhi pertumbuhan
dan pembangunan ekonomi diantaranya:

1.      Faktor Sumber Daya Manusia,  Sama halnya dengan proses pembangunan,
pertumbuhan ekonomi juga dipengaruhi oleh SDM. Sumber daya manusia merupakan
faktor terpenting dalam proses pembangunan, cepat lambatnya proses pembangunan
tergantung kepada sejauhmana sumber daya manusianya selaku subjek pembangunan
memiliki kompetensi yang memadai untuk melaksanakan proses pembangunan.

2.   Jumlah penduduk. Menurut Adam Smith
bahwa perkembangan penduduk akan mendorong pembangunan ekonomi, karena
bertambahnya penduduk akan memperluas pasar dan perluasan pasar akan
meninggikan tingkat spesialisasi dalam perekonomian  spesialisasi tersebut. Akibatnya maka tingkat
kegiatan  ekonomi akan bertambah tinggi.
Perkembangan spesialisasi dan pembagian pekerjaan akan mempercepat proses
pembangunan ekonomi, karena spesialisasi akan meningkatkan produktivitas tenaga
kerja dan mendorong perkembangan tehnologi. Sedangkan menurut Richardo dan
Malthus, perkembangan penduduk yang berjalan dengan cepat akan memperbesar
jumlah penduduk menjadi dua kali lipat dalam waktu satu generasi, akan
menurunkan kembali tingkat pembangunan ketaraf yang lebih rendah. Pada tingkat
ini pekerja akan menerima upah sangat minimum, dan ini dapat menyebabkan
tingkat perekonomian mencapai desk bound state dan pembentukan modal sulit
dicapai yang mengakibatkan pengusaha sulit mendapatkan keuntungan.

3.
Faktor Sumber Daya Alam, Sebagian besar negara berkembang bertumpu kepada
sumber daya alam dalam melaksanakan proses pembangunannya. Namun demikian,
sumber daya alam saja tidak menjamin keberhasilan proses pembanguan ekonomi,
apabila tidak didukung oleh kemampaun sumber daya manusianya dalam mengelola
sumber daya alam yang tersedia. Sumber daya alam yang dimaksud dinataranya
kesuburan tanah, kekayaan mineral, tambang, kekayaan hasil hutan dan kekayaan
laut.

4.
Faktor Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi yang semakin pesat mendorong adanya percepatan proses pembangunan,
pergantian pola kerja yang semula menggunakan tangan manusia digantikan oleh
mesin-mesin canggih berdampak kepada aspek efisiensi, kualitas dan kuantitas
serangkaian aktivitas pembangunan ekonomi yang dilakukan dan pada akhirnya
berakibat pada percepatan laju pertumbuhan perekonomian.

5.
Faktor Budaya,  Fafktor  budaya memberikan dampak tersendiri terhadap
pembangunan ekonomi yang dilakukan, faktor ini dapat berfungsi sebagai
pembangkit atau pendorong proses pembangunan tetapi dapat juga menjadi
penghambat pembangunan. Budaya yang dapat mendorong pembangunan diantaranya
sikap kerja keras dan kerja cerdas, jujur, ulet dan sebagainya. Adapun budaya
yang dapat menghambat proses pembangunan diantaranya sikap anarkis, egois,
boros, KKN, dan sebagainya.

6.
Sumber Daya Modal, Sumber daya modal dibutuhkan manusia untuk mengolah SDA dan
meningkatkan kualitas IPTEK. Sumber daya modal berupa barang-barang modal
sangat penting bagi perkembangan dan kelancaran pembangunan ekonomi karena
barang-barang modal juga dapat meningkatkan produktivitas.

7.
Kebijakan Pemerintah, Kebijakan pemerintah terhadap masalah moneter,
keberpihakan pada pergerakan sector riil dan kemudahan dalam  aktivitas bisnis akan memudahkan pertumbuhan
ekonomi. (penulis)

Sedangkan faktor
non ekonomi mencakup kondisi
sosial kultur
yang ada di masyarakat, keadaan
politik,
kelembagaan, dan sistem yang berkembang dan berlaku.

3.     
Bagaimana Pertumbuhan  dan Pembangunan Dalam Perspektif Syariah ?

Dalam ekonomi sekuler, pembangunan
ekonomi mengacu pada suatu proses dimana rakyat suatu  negara atau daerah memanfaatkan sumber daya
yang tersedia untuk menghasilkan kenaikan produksi barang dan jasa perkapita
secara terus menerus. Menurut W.A. Lewis Pertumbuhan terjadi jika output
meningkat perjam kerjanya. Jadi pembangunan ekonomi dinyatakan sebagai kenaikan
pendapatan perkapita bangsa dalam suatu masa tertentu. Pertumbuhan ekonomi
mengukur kapasitas ekonomi dalam menaikkan suplai barang dan jasa tanpa
parubahan biaya keuangan dan biaya sebenarnya. Olehnya itu ekonomi sekuler
menentukan kemajuan dengan tiga ukuran. Pertama, pendapatan perkapitanya harus
agak tinggi

Kedua pendapatan perkapitanya
senantiasa naik dan ketiga kecenderungan kenaikan pendapatan perkapita harus
terus menerus dan mandiri.

Konsep Islam tentang pembangunan
ekonomi lebih luas dari konsep ekonomi sekuler dengan cakupan dimensi yang
multidimensional meliputi aspek subject matter dan non secular yang dikenal  dengan “Tazkiyah Nafs”
sebagaimana firman Allah SWT QS. Asy-Syams, 91: 7-10. Pola superb keyakinan Islam  berupa motivasi yang mendorong seseorang
untuk bekerja dan mempengaruhi  pola-pola
aktual perilaku Islam, dalam memanfaatkan sumber-sumber daya daya dari Allah
secara efisien (QS. Al-Jumu’ah, 62:10). Rasulullah bersabda, “Bahwa tidak ada
yang lebih baik dari pada makanan yang dihasilkan oleh tangan sendiri.” (HR.
Bukhari)

3.1.  
Syarat pertumbuhan dan Islam sebagai
faktor pembangunan

Prasyarat pertumbuhan ekonomi yang
paling penting dalam pembangunan ekonomi adalah, pertama sumber daya alam dan kedua
perilaku manusia. Menurut professor Lewis,  pertumbuhan output  perkapita disatu pihak tergantung pada sumber
daya alam yang tersedia dan pihak lain pada perilaku manusia. Hal ini dapat
dilihat pada negara-negara dengan sumber daya alam yang sama menunjukkan
kemampuan perkembangan yang tidak sama, hal ini merupakan tantangan yang dapat
diterima atau ditolak oleh pemikiran manusia. Seperti negara Australia, swiss,
Belanda, Liberia, Argentina. sebagai negara  memiliki lahan 1 ha berbanding 0,1 ha according to
kapita menjadi negara yang cukup maju baik pertanian maupun industrinya.
Sebaliknya Negara-negara Timur Tengah mempunyai sumber minyak yang menajubkan,
tetapi masih merupakan  tergolong negara
yang belum maju.  Dari analisis ini telah
terbukti bahwa perilaku manusia merupakan pencerminan keinginan untuk
pertumbuhan memainkan peranan yang sangat penting dalam menentukan pembangunan
ekonomi. Pembentukan perilaku manusia 
merupakan suatu tantangan yang berat termasuk dinegara-negara
berkembang. Permasalahan ekonomi, sosial dan politik juga tidak bisa dipisahkan
dari masalah pembentukan karakter manusia. Sekarang ini negara-negara Islam
dalam posisi yang lebih baik untuk melakukan usaha pembangunan ekonomi yang
lebih besar karena dua sebab. Pertama,
banyaknya sumber daya alam yang telah ditemukan yang sebelumnya belum
termanfaatkan. Kedua nilai-nilai
Islam dapat digunakan untuk menyesuaikan sosio-ekonomi dan sosio-politik dalam
membentuk perilaku manusia. Olehnya dalam Islam itu ada beberapa hal yang perlu
dilakukan dalam menyiapkan perilaku manusia sebagai agen pembangunan. Pertama membentuk karakter manusia yang
seimbang, seimbang antara materi dan non secular, pribadi dengan sosial, jasmani
dan rohani, intelektual dan emosional. Kedua,
Membentuk pribadi yang memiliki produktivitas dengan keseimbangan antara
prestasi dan praise. Ketiga
pemanfaatan sumber daya secara optimum dengan tetap menjaga keseimbangan dan
kelestarian sumber daya alam.

Selain itu upaya-upaya yang perlu
dilakukan untuk mendorong pertumbuhan dan pengembangan pembangunan ekonomi
antara lain:

1.   Pembangunan
sumberdaya insani merupakan tujuan pertama dari kebijakan pembangunan. Dengan
demikian, harus diupayakan membangkitkan sikap  dan apresiasi yang benar,
pengembangan watak dan kepribadian, pendidikan dan latihan yang
menghasilkan  keterampilan, pengembangann ilmu dan riset serta peningkatan
partisipasi.

2.    Perluasan
produksi yang bermanfaat. Tujuan utama adalah meningkatkan jumlah produksi
nasional di satu sisi dan tercapainya pola produksi yang tepat.  Produksi yang dimaksud  bukan hanya sesuatu yang dapat dibeli orang
kaya saja, namun juga bermanfaat bagi kepentingan ummat manusia secara
keseluruhan. Produksi barang barang yang dilarang oleh Islam tidak akan
diperkenankan, sedangkan yang bermanfaat untuk ummat akan ditingkatkan. Dalam
kebijakan demikian, pola investasi dan produksi disesuaikan dengan prioritas
Islam dan kebutuhan ummat. Dalam hal ini ada tiga hal yang diprioritaskan : Pertama, Produksi dan tersedianya bahan
makanan dan kebutuhan pokok dalam jumlah yang melimpah, termasuk bahan-bahan
konstruksi untuk perumahan,  jalan dan
kebutuhan dasar lainnya dengan harga yang cukup murah.  Kedua,
Perlunya pertahanan dunia Islam di negara-negara Islam, maka dibutuhkan
peralatan  persenjataan yang memadai. Ketiga,
Swasembada di bidang produksi kebutuhan primer.

3.    Perbaikan
kualitas hidup dengan memberikan prioritas pada tiga hal, Pertama,  terciptanya lapangan kerja dengan segala penataan
struktural, teknologi, investasi, dan pendidikan. Kedua, sistem keamanan nasional yang luas dan efektif yang menjamin
kebutuhan dasar masyarakat. Dalam hal ini zakat  harus dijadikan sebagi
instrumen utama. Ketiga, 
Pembagian kekayaan dan pendapatan dan merata. Harus ada kebijakan pendapatan
yang mampu mengontrol tingkat pendapatan yang terendah (UMR), mengurangi
konsentrasi ketimpangan dalam masyarakat. Salah satu indikator tampilan
pembangunan adalah berkurangnya tingkat perbedaan pendapatan masyarakat. Karena
itu sistem perpajakan harus diatur sebaik-baiknya.

4.    Pembangunan
yang berimbang,  yakni harmonisasi
antar  daerah yang berbeda dalam satu negara  dan antar sektor
ekonomi. Desentralisasi ekonomi dan pembangunan semesta yang tepat, bukan saja
merupakan tuntutan keadilan tetapi juga diperlukan untuk kemajuan yang
maksimum. Salah satu tujuan pembangunan adalah melalui desentralisasi, maka
pemerintah daerah perlu diberikan keleluasaan untuk mengembangkan daerahnya
sendiri dengan meningkatkan peran serta masyarakat. Dengan terus melakukan
test  and  balances  serta bimbingan dan pengawasan yang kuat, akan
membentuk daerah itu menjadi agen pembangunan yang serba guna. Tujuan
perencanaan pembangunan yang komprehensif akan sulit dicapai bilamana kita
tidak mampu mengembangkan desentralisasi kekuasaan dan pengawasan yang lebih
efisien  serta mengurangi birokratisasi masyarakat. Dalam konteks ini,
maka perusahaan-perusahaan swasta kecil dan menengah harus digalakkan dan
dikembangkan.  Para penguasa daerah harus
menciptakan iklim lingkungan yang tepat dan kondusif yang memungkinkan tumbuh
dan berkembangnya perusahaan-perusahaan tersebut. Perusahaan juga  harus
didorong agar dapat meningkatkan investasi yang lebih besar lagi. Mereka juga
diarahkan agar menjadi organisasi bisnis yang maju. Mereka itulah yang menjadi
instrumen pembangunan ekonomi yang sarat nilai serta membagi rata tingkat
pendapatan kepada seluruh masayarakat.

5.    Teknologi baru,
yaitu berkembangnya teknologi tepat guna yang sesuai  dengan kondisi,
kebutuhan, aspirasi negara-negara, khususnya negara-negara muslim. Proses
pembangunan yang mandiri hanya dapat terwujud jika negara tersebut sudah bebas
dari ”bantuan” asing serta mampu menguasai teknologi yang berkembang dalam
lingkungan sosial dan alam yang bebeda, teknologi itu selanjutnya akan
diadaptasikan dengan kreatifitas sendiri. Karena itu, perlu ada riset yang
intensif dan luas.

6.    Berkurangnya
ketergantungan pada dunia luar dan dengan semakin menyatunya kerjasama yang
cast sesama negara-negara Muslim. Adalah tugas ummat sebagai khalifah, bahwa
ketergantungan pada dunia non-Islam dalam  semua segi harus diubah menjadi kemandirian
ekonomi. Harga diri negara-negara muslim harus dibangun kembali dan pembangunan
kekuatan serta kekuasaan harus diwujudkan secara bertahap. Ketahanan dan
kemerdekaan dunia Islam serta kedamaian dan kesentosaaan  ummat manusia
merupakan tujuan utama yang harus mewarnai dalam perencanaan pembangunan.  Karena itu perlu ada perubahan mendasar 
dalam isi dan pola perencanaan  pembangunan kita.

E.
Kesimpulan

Laju pertumbuhan suatu
perekonomian  ditentukan beberapa hal
antara lain; (i) luas lahan (termasuk kekayaan alam yang terkandung
didalamnya), (ii) Jumlah dan tingkat perkembangan penduduk, (iii) Jumlah inventory
modal dan perkembangannya, (iv) tingkat tehnologi dan penerapannya. Dalam
konsep pertumbuhan ekonomi perspektif syariah ada dua hal faktor penentu yaitu,
pertama sumber daya alam dan kedua, perilaku manusia.

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, B. 2004. Analisis Ekonomi Pertanian
Indonesia. Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis.
2004. A Dictionary of Economics.

Inggris: Penguin Books Ltd.

N .Gregory MAnkiw,2000.teori makro
ekonomi.Erlangga;Jakarta.

P.Todaro Michael,1995. Ekonomi Untuk
Perkembangan Bumi Aksara: Jakarta.

Riedel,
J. 1992. Pembangunan Ekonomi di Asia Timur: Melakukan Hal yang Lazim

Terjadi. Dalam Hughes, H. (ed.). Keberhasilan
Industrialisasi di Asia Timur. PT.

Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Samuelson,Nordhaus,2001.
Ilmu Ekonomi-Edisi Bahasa Indonesia.PT. Media International

International Edukasi;Jakarta.

Sudarsono,
1995. Pengantar Ekonomi Mikro. Lembaga Penelitian, Pendidikan dan

Penerangan Ekonomi dan Sosial, Jakarta.

Sukirno.
1985. Ekonomi Pembangunan: Proses, Masalah dan Dasar Kebijakan.

Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia,
Jakarta.

Todaro,
M.P. 2000. Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga. Edisi Ketujuh. Erlangga,

Jakarta.


Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis.
2004. A Dictionary of Economics. Inggris: Penguin Books Ltd
Bannock, Graham, R. E. Baxter dan Evan Davis. 2004.
A Dictionary of Economics. Inggris: Penguin Books Ltd