Bank syariah di Indonesia sudah mampu mengelola manajemen risiko dengan baik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Bank syariah di Indonesia sudah mampu
mengelola manajemen risiko dengan baik. Bank-bank syariah telah
menerapkan manajemen risiko megikuti standardisasi yang ada baik secara
nasional oleh Bank Indonesia (BI) maupun standardisasi internasional. 

Bank
BRI Syariah telah mencoba menerapkan pengelolaan risiko agar setara
dengan Standar Basel maupun Islamic Financial Service Board (IFSB).
Sekretaris Korporat Bank BRI Syariah, Lukita T Prakasa mengatakan PBI
13/23/PBI/2011 telah cukup mencakup risiko-risiko yang dihadapi
perbankan syariah.

“Secara umum hal tersebut telah dipenuhi bank
syariah di Indonesia,” ujarnya kepada ROL, Rabu (6/3). Menurut Lukita,
risiko yang paling dominan di perbankan syariah adalah risiko
pembiayaan. Untuk itulah risiko ini tetap meminta alokasi modal yang
cukup dominan.

Direktur Bank BNI Syariah, Imam Teguh Saptono
mengatakan hampir semua bank syariah di Indonesia masih beroperasi pada
pasar yang tradisionil sehinga risikonya relatif lebih terkendali. Lain
halnya dengan pasar perbankan syariah di Malaysia dan Timur Tengah yang
sangat aktif di bidang pasar modal.

“Keterbatasan instrumen
syariah untuk melakukan hedging dan sebagainya menyebabkan manajemen
risiko syariah dipersepsikan lebih rendah,” ucap Imam. Menurutnya, dari
sepuluh jenis risiko yang ada untuk perbankan syariah Indonesia,
eksposur terbesar adalah di risiko pembiayaan (//credit risk//) dan
risiko imbal hasil.

Ketua I Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI),
Agustianto, mengatakan Bank Umum Syariah (BUS) dan Unit Usaha Syariah
(BUS) mempunyai risiko lebih kompleks dibanding risiko yang dimiliki
oleh bank konvensional.  Perbankan syariah akan selalu berhadapan dengan
berbagai macam risiko, baik eksternal maupun internal yang melekat pada
perusahaan. Risiko-risiko tersebut tidak dapat dihindari melainkan
dikelola dan dikendalikan sehingga tidak memberikan efek yang besar bagi
perusahaan.

Menurutnya manajemen risiko pada bank syariah
memiliki karakter yang berbeda dengan karakter yang dimiliki bank
konvensional. “Manajemen risiko bank syariah haruslah yang sesuai dengan
karakter bisnis syariah,” kata Agustianto.

Ahli Perbankan
Syariah Indonesia, Adiwarman Azwar Karim, melihat kesadaran pengelolaan
risiko pada perbankan syariah di Indonesia  semakin baik. Dia
mencontohkan dalam produk gadai emas syariah. Misalnya seorang calon
nasabah memiliki emas dan membutuhkan uang tunai untuk suatu keperluan
mendesak.

Ia menuturkan, emas digadaikan, nasabah menerima uang,
emas dititipkan ke bank syariah, bank syariah mengenakan biaya
penitipan emas.  Ketika jatuh tempo, nasabah menebus emasnya.
“Sesederhana itu,  kita katakan saja inilah tahap pertama dari
perkembangan produk Gadai Emas Syariah,” ujar Adiwarman.

error: Content is protected !!